Mengabarkan Berita terbaru

Mengejutkan !Ini Lah Berita Tentang Mayat yang Menaiki Gunung Tertinggi Di Dunia, Everest

0
Posted in Uncategorized By Worance

Sejumlah studi memang telah menunjukkan gletser di Everest, atau di hampir seluruh pegunungan Himalaya, tengah mencair dan menipis bersama dengan cepat. Salah satunya studi terhadap 2015 yang menunjukkan kolam di Khumbu Glacier, pendaki harus melewatinya untuk hingga ke puncak, tengah melebar gara-gara percepatan melelehnya es itu.

Melebarnya Khumbu Glacier termasuk sebabkan munculnya mayat-mayat pendaki. Hal selanjutnya dianggap oleh Tshering Pandey Bhote, Vice President Nepal National Mountain Guides Association. Lokasi itu sendiri disebut-sebut sebagai area bersama tingkat kemunculan mayat tertinggi.

“Tapi biasanya pendaki telah mempersiapkan mentalnya untuk memandang panorama seperti itu saat melintas,” katanya Tshering menambahkan, sebagaimana detikINET kutip dari BBC, Sabtu (23/3/2019). lihat selengkapnya tata cara sholat jenazah

Lalu, pada 2016, tentara Nepal mesti mengeringkan Danau Imja di dekat Everest. Hal ini lantaran kapasitas airnya yang bertambah berasal dari lelehan gletser telah raih level bahaya.

Kemudian, th. lalu, sebuah tim peneliti menggali Khumbu Glacier dan menemukan esnya jadi lebih hangat berasal dari perkiraan. Es terdingin suhunya -3,3 derajat Celsius, atau jadi lebih hangat 2 derajat Celsius dari rataan suhu tahunannya.

“Jika saya mati di Everest, jangan usik mayatku”

Siapa sangka terkecuali mengevakuasi mayat dari Everest ternyata memerlukan ongkos tinggi. Sejumlah ahli menyebut cost untuk menurunkan jasad-jasad itu berada di kisaran USD 40.000 (Rp 567 juta) hingga USD 80.000 (Rp 1,1 miliar).

Sekadar info, cost yang wajib dihabiskan untuk mendaki Everest bagi satu orang berkisar dari USD 30.000 sampai USD 130.000. Jadi, tersedia kemungkinan, ongkos pengangkutan mayatnya lebih mahal berasal dari biaya mendaki gunung itu sendiri. Selain itu, sangat tidak mudah untuk mengangkut mayat-mayat itu ke bawah.

“Salah satu evakuasi dengan tantangan terbesar adalah ketika melakukannya dari ketinggian 8.700 meter, dekat puncaknya. Jasadnya terlampau beku dan dapat seberat 150 kilogram, dan itu harus dievakuasi dari daerah yang sukar di ketinggian tersebut” ujar Ang Tshering Sherpa, mantan presiden NMA.

Baca juga: 5 Skenario Kiamat dari Kacamata Sains

Selain mahal dan sulit, urusan yang menyangkut mayat di Everest sejatinya benar-benar personal. “Kebanyakan pendaki lebih puas mayatnya ditinggal begitu saja di gunung kecuali mereka mati,” ucap Alan Arnett, penulis yang fokus terhadap aktivitas pendakian. nih selengkapnya tata cara memandikan jenazah

“Jadi jikalau mayatnya dipindahkan maka kelakuan itu bakal diakui tidak menghargainya, jikalau sebenarnya wajib dipindahkan dari rute pendakian atau keinginan dari keluarga,” tuturnya menambahkan.

Sampai kala ini, tercatat telah lebih berasal dari 4.800 pendaki yang mencicipi gunung Everest. Jadi, jika suatu saat anda sudi mendaki ke sana, siapkan mental, karena, tak menutup kemungkinan, dapat makin banyak mayat yang nampak berasal dari ‘kuburan es’-nya nanti. (mon/fyk)

Operator ekspedisi pendakian gunung prihatin dengan jumlah jasad pendaki yang terekspos di Gunung Everest kala gletsernya mencair.

Hampir 300 pendaki gunung tewas di puncak sejak upaya pendakian pertama dan dua pertiga mayat diperkirakan tetap terkubur di salju dan es.

Jasad para pendaki dipindahkan di segi gunung yang berada di teritori Cina di utara, saat musim semi dimulai.

Lebih dari 4.800 pendaki udah mendaki puncak tertinggi di Bumi.

Cina tutup pangkalan pendakian Everest untuk para wisatawan
Yarsagumba, ‘obat kuat’ Himalaya yang lebih mahal berasal dari emas
Rahasia yang terkubur di area yang paling mematikan di bumi
“Karena pemanasan global, susunan es dan gletser mencair bersama cepat dan jasad yang terkubur selama bertahun-tahun kini muncul,” kata Ang Tshering Sherpa, mantan presiden Asosiasi Pendaki Gunung Nepal.

“Kami telah membawa turun jasad lebih dari satu pendaki gunung yang meninggal di dalam sebagian th. terakhir, namun yang lama terkubur saat ini keluar.”

Seorang pejabat pemerintah yang bekerja sebagai petugas penghubung di Everest menambahkan: “Saya sendiri telah menyita kurang lebih 10 jasad dalam lebih dari satu th. paling akhir dari beragam wilayah di Everest dan mengerti semakin banyak berasal dari mereka yang terlihat sekarang.”

Sementara itu, di sisi lain Gunung Everest di wilayah Nepal, pejabat Asosiasi Operator Ekspedisi Nepal (EOAN) menyatakan mereka menurunkan semua tali berasal dari kamp yang lebih tinggi di pegunungan Everest dan Lhotse terhadap musim pendakian ini, tetapi berurusan bersama jasad tidaklah mudah.

Hak atas fotoDOMA SHERPA
Image caption
Jasad pendaki dikatakan muncul di Camp 4 lebih-lebih gara-gara tanahnya yang rata
Mereka menunjuk pada hukum Nepal yang mengharuskan keterlibatan lembaga pemerintah ketika berhadapan dengan jenasah dan menyatakan itu adalah tantangan.

“Masalah ini harus diprioritaskan oleh pemerintah dan industri pendakian gunung,” kata Dambar Parajuli, presiden EOAN.

“Jika mereka sanggup melakukannya di sisi Everest di Tibet, kami sanggup melakukannya di sini juga.”

Jasad yang bermunculan
Pada 2017 silam, tangan seorang pendaki yang meninggal nampak di atas tanah di Camp 1.

Operator ekspedisi mengatakan mereka mengerahkan pendaki profesional dari komunitas Sherpa untuk memindahkan jasad pendaki itu.

Di tahun yang sama, jasad pendaki lain nampak di permukaan Gletser Khumbu.

Juga dikenal sebagai Air Terjun Khumbu, ini adalah area sebagian besar jasad nampak didalam sebagian th. terakhir, kata para pendaki gunung.

Hak atas fotoC. SCOTT WATSON/UNIVERSITY OF LEEDS
Image caption
Para ilmuwan udah mendapatkan kolam yang tambah besar dan join di Gletser Khumbu
Tempat lain dimana jasad para pendaki bermunculan adalah tempat Camp 4, terhitung disebut South Col, yang relatif datar.

“Tangan dan kaki mayat telah nampak di base camp termasuk dalam lebih dari satu tahun terakhir,” kata seorang pejabat bersama organisasi non-pemerintah yang aktif di lokasi tersebut.

“Kami memperhatikan bahwa level es di dan sekitar base camp telah turun, dan itulah sebabnya mayat-mayat itu menjadi terbuka.”

Gletser yang menipis
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gletser di wilayah Everest, layaknya di lebih dari satu besar Himalaya, mencair dan menipis dengan cepat.

Sebuah studi terhadap th. 2015 mengungkap bahwa kolam di Gletser Khumbu – yang kudu diseberangi pendaki untuk mengukur puncak yang dahsyat – berkembang dan berhimpun gara-gara percepatan pencairan.

Tentara Nepal mengeringkan Danau Imja di dekat Gunung Everest pada tahun 2016 sehabis air berasal dari hasil pencairan gletser yang cepat telah raih tingkat yang berbahaya.

Tim peneliti lain, juga dari Universitas Leeds dan Aberystwyth di Inggris, th. lalu mengebor Gletser Khumbu dan menemukan es lebih hangat dari yang diperkirakan.

Tercatata suhu minimum es cuma -3,3C, bersama dengan es paling dingin pun jadi 2C lebih hangat daripada suhu hawa tahunan rata-rata.

Namun, tidak semua mayat yang keluar dari bawah es adalah karena krisis glasial yang cepat.

Hak atas fotoANG TASHI SHERPA
Image caption
Sebagian besar mayat yang tewas tentang bersama insiden baru-baru ini di gunung
Beberapa berasal dari mereka terkena juga dikarenakan pergerakan Gletser Khumbu, kata pendaki gunung.

“Karena pergerakan Gletser Khumbu, kita dapat melihat mayat dari sementara ke waktu,” kata Tshering Pandey Bhote, wakil presiden Asosiasi Pemandu Gunung Nasional Nepal.

“Tapi umumnya pendaki siap secara mental untuk menemukan pemandangan layaknya itu.”

Jasad pendaki sebagai ‘penanda’
Beberapa jasad yang ditemukan di lokasi lebih tinggi di Gunung Everest juga menjadi landmark atau penanda bagi para pendaki gunung.

Salah satunya adalah “sepatu hijau” di dekat puncak.

Mereka merujuk terhadap seorang pendaki yang meninggal di bawah batu yang menggantung. Sepatu bot hijau miliknya, tetap berdiri, hadapi rute pendakian.

Beberapa ahli pendakian menjelaskan jasad itu kemudian dipindahkan, sementara pejabat pariwisata Nepal menyatakan mereka tidak memiliki informasi apakah jasad tetap terlihat.

Memindahkan jasad dari kamp-kamp yang lebih tinggi sanggup jadi mahal dan sulit.

Para pakar menyebutkan biayanya US$40.000 hingga $80.000 untuk menurunkan mayat.

“Salah satu upaya yang paling susah adalah dari ketinggian 8.700m, di dekat puncak,” kata Ang Tshering Sherpa, mantan presiden NMA.

“Tubuh itu benar-benar beku dan beratnya 150 kg dan kudu diturunkan dari area yang susah di ketinggian itu.”

Para ahli menyebutkan setiap ketetapan berkenaan apa yang wajib dilaksanakan dengan jasad pendaki di gunung juga merupakan kasus yang benar-benar pribadi.

“Kebanyakan pendaki senang dibiarkan di gunung jikalau mereka mati,” kata Alan Arnette, seorang pendaki gunung terkemuka yang termasuk menulis mengenai pendakian gunung.

“Jadi bakal diakui tidak sopan hanya memindahkan mereka jika mereka wajib dipindahkan dari rute pendakian atau keluarga mereka menginginkannya.”

Leave a Reply