Mengabarkan Berita terbaru

Gereja Ayam, Satu Abad Menjadi Saksi Sejarah

0
Posted in wisata By Worance
Gereja Ayam, Satu Abad Menjadi Saksi Sejarah

Seperti biasa, laju lalu lintas di sekitar Jalan Samanhudi, Jakarta Pusat, selalu dipadati kendaraan dan para pejalan kaki. Bisingnya bunyi klakson membuat jalanan ini seakan tak pernah sepi. Terlebih lagi, para pengunjung Pasar Baru tepat di belakang jalan nan padat tersebut banyak yang memilih jalanan ini sebagai area parkir yang praktis. Tak heran, jalanan ini terasa sangat penuh dan ramai, terutama bila matahari belum terbenam.

Di hoek jalanan tersebut, tepatnya di balik jajaran kios makanan, tampak sebuah bangunan bergaya kolonial yang berdiri dengan gagahnya. Berbeda dengan jalanan sekitarnya yang terdengar gaduh, kompleks bangunan berbentuk unik ini tampak damai. Tampak tentram. Suara bising seakan tersaring oleh pepohonan di sisi kiri dan kanan bangunan tersebut. Sekilas, bila melihat kompleknya yang tampak bersih dan terawat, bangunan ini tak tampak seperti bangunan tua lainnya. Namun, ketika saya melihat 2 menara yang menjulang di sisi kiri dan kanan, 6 lingkaran kecil di tengah fasad bangunan, serta kubah khas gaya Eropa di ujung pertemuan atap, jelaslah bangunan ini tak lagi berusia belia.

Terlebih lagi, ketika melihat bentuk ayam jago yang bertengger di atas kubah tersebut. Seketika, kami seakan terhanyut ke dalam masa-masa lampau, ketika Belanda masih berjaya di tanah Batavia. Pemandangan itulah yang menumbuhkan rasa penasaran kami untuk memasuki bangunan religi bernama GPIB Pniel, yang lebih dikenal dengan nama Gereja Ayam ini. Ketika kami baru menginjakkan kaki kami di pelataran gereja bernuansa krem dan cokelat ini, seorang pria bertopi dan berjaket denim langsung menyambut kami dengan hangat. Hallo, apa kabar? ujarnya sembari tersenyum. Ia adalah Estefanus ctavianus Louis, Ketua PHMJ (Pelaksana Harian Majelis Jemaat) GPIB Pniel ini. Sembari mengajak berkeliling gereja, Louis demikian panggilan akrab dari pria bertopi tersebut mulai melantunkan cerita mengenai asal muasal gereja yang kini tengah menjalani proses menjadi bangunan cagar budaya ini.

Furnitur Asli dan Artefak Tua Dirawat Dengan Baik

Jika mengingat usianya yang sudah mencapai satu abad, Anda mungkin akan menganggap bangunan dan interior di dalamnya sudah rapuh. Sudah rusak. Sudah usang. Nyatanya, semua anggapan itu salah kaprah. Kami tercengang ketika memasuki bangunan gereja ini, ternyata interior ruangannya masih sangat terawat dan terjaga.

Jajaran kursi berwarna cokelat tua terlihat rapi memenuhi seisi ruang. Ada sebagian kursi yang masih memiliki anyaman rotan sebagai alas duduknya, tapi ada sebagian lagi yang sudah berganti menjadi busa biasa. Di bagian terdepan, mimbar yang terbuat dari kayu jati pun masih kokoh Si Sejarah berdiri, tanpa terlihat cacat barang sedikitpun. Lampu chandelier klasik pun masih menggantung erat di atas plafonnya yang tinggi, berpadu dengan lampu gantung lainnya yang bergaya lebih kontemporer. Setengah dari area gereja ini masih dilapisi oleh lantai ubin. Bahkan, di depan mimbar, kami dapat melihat sebuah Alkitab besar berbahasa Belanda yang ditutupi kaca. Alkitab ini sudah ada sejak tahun 1855. Ratu Belanda kala itu, Sofia Frederica Matilda memberikannya pada pihak gereja. Dan uniknya, Alkitab ini hanya ada 2 yang satu di sini, yang satunya ada di Belanda, ujar Louis.

Genset Untuk Menyuplai Listrik Gereja

Ada kalanya saat gereja sedang digunakan berbibadah, tiba-tiba terjadi gangguan listrik dan hal tersebut pastinya mengganggu jemaat yang sedang berbibadah. Oleh karena itu gereja ayam memiliki satu unit genset kapasitas besar. Genset untuk menyuplai listrik saat sedang ada kegiatan di gereja benar-benar solusi yang tepat. Terlebih lagi harga genset diesel yanmar 8 kva sangat sesuai dengan manfaat yang kita peroleh.

Leave a Reply